Bagi pelajar dan mahasiswa, menguasai Teknis Penulisan (Gelar, Daftar Pustaka, Kutipan) bukan hanya tentang nilai bagus di tugas akhir, melainkan fondasi penting untuk mengembangkan keterampilan penulisan akademik dan formal yang kredibel, menghindari plagiarisme, serta menyampaikan informasi dengan etika dan standar yang berlaku. Di kehidupan sehari-hari dan dunia profesional, penguasaan teknis ini memungkinkan kita untuk menyusun laporan, proposal, atau surat resmi dengan rapi, menghargai sumber informasi secara tepat, dan menampilkan profesionalisme dalam setiap dokumen tertulis.
Terlebih lagi, bagi Anda yang sedang berjuang menembus seleksi tes masuk perguruan tinggi (terutama untuk esai atau karya tulis), seleksi beasiswa, atau posisi profesional yang menuntut penulisan laporan/riset, kemampuan menguasai Teknis Penulisan secara cepat dan akurat adalah senjata rahasia! Tes ini bukan hanya sekadar menguji kemampuan menulis, tetapi menuntut ketelitian dalam penulisan gelar dan singkatan, kemampuan menyusun daftar pustaka sesuai standar (APA, MLA, dsb.), dan menerapkan tata cara kutipan yang benar di bawah tekanan waktu. Dengan menguasai Teknis Penulisan, Anda tidak hanya melatih konsentrasi, tetapi juga mengasah otak untuk mengorganisir informasi yang bersumber dari orang lain, mempertanggung jawabkan setiap klaim, dan mengambil keputusan yang benar demi integritas karya tulis Anda.
Pahrul Yanto, M. Kom Penulis
Menuliskan nama beserta gelar dengan benar adalah bentuk penghormatan dan menunjukkan profesionalisme. Aturan dasarnya diatur dalam PUEBI.
1. Aturan Dasar Penulisan Gelar.
Pemisah Nama dan Gelar: Gunakan tanda koma (,) untuk memisahkan nama dengan gelar pertama.
Pemisah Antar Gelar: Jika seseorang memiliki lebih dari satu gelar, gunakan tanda koma (,) untuk memisahkan gelar-gelar tersebut.
Struktur Penulisan Gelar: Setiap singkatan gelar ditulis dengan diakhiri tanda titik (.).
2. Peletakan Gelar.
Gelar di Belakang Nama (Gelar Indonesia): Gelar sarjana (S1), magister (S2), dan doktor (S3) dari dalam negeri diletakkan di belakang nama. Contoh Benar:
Budi Santoso, S.E. (Sarjana Ekonomi)
Rina Hartati, S.Pd., M.Pd. (Sarjana Pendidikan, Magister Pendidikan)
Gelar di Depan Nama (Gelar Asing/Lokal Tertentu): Beberapa gelar, terutama dari luar negeri atau gelar profesi/keagamaan tertentu, diletakkan di depan nama. Contoh Benar:
Dr. (Doktor) Handoko
Prof. Dr. Ir. (Profesor Doktor Insinyur) Aisha Rahman
K.H. (Kiai Haji) Ahmad Dahlan
3. Tabel Singkatan Gelar yang Umum.
Berikut adalah beberapa contoh penulisan gelar yang benar sesuai PUEBI.
Jenjang
Bidang
Singkatan
Keterangan
Diploma (D3)
Ahli Madya
A.Md.
A.Md.Kom. (Komputer)
Sarjana (S1)
Pendidikan
S.Pd.
Sarjana Pendidikan
Hukum
S.H.
Sarjana Hukum
Teknik
S.T.
Sarjana Teknik
Ekonomi
S.E.
Sarjana Ekonomi
Psikologi
S.Psi.
Sarjana Psikologi
Magister (S2)
Manajemen
M.M.
Magister Manajemen
Sains
M.Si.
Magister Sains
Humaniora
M.Hum.
Magister Humaniora
Doktor (S3)
Semua Bidang
Dr.
Doktor (diletakkan di depan nama)
Contoh Penulisan Gabungan yang Kompleks:
Prof. Dr. Budi Hartono, S.T., M.Eng.
Prof. = Profesor (gelar jabatan akademik, di depan)
Dr. = Doktor (gelar akademik S3, di depan)
Budi Hartono = Nama
, = Pemisah nama dan gelar belakang
S.T. = Sarjana Teknik (gelar S1)
, = Pemisah antar gelar belakang
M.Eng. = Master of Engineering (gelar S2)
Mengutip adalah cara kita "meminjam" ide atau data dari sumber lain untuk memperkuat argumen kita. Melakukan kutipan dengan benar adalah kunci untuk menghindari plagiarisme dan menunjukkan keluasan wawasan Anda.
1. Mengapa Mengutip Itu Penting?
Memperkuat Argumen: Menggunakan data atau pendapat ahli membuat tulisan Anda lebih meyakinkan.
Memberi Penghargaan: Menghargai kerja keras penulis asli.
Keterlacakan: Membantu pembaca menemukan sumber asli jika mereka ingin mendalaminya.
2. Jenis-Jenis Kutipan.
Kutipan Langsung: Menyalin kalimat dari sumber asli kata per kata.
Aturan: Kutipan harus diapit oleh tanda petik ("...") dan wajib menyertakan nama penulis, tahun terbit, dan nomor halaman.
Contoh: Menurut Jones (2021), "motivasi intrinsik memiliki dampak yang lebih tahan lama dibandingkan insentif eksternal" (hlm. 45).
Jika kutipan lebih dari 40 kata, biasanya ditulis menjorok ke dalam tanpa tanda petik.
Kutipan Tidak Langsung (Parafrasa): Mengambil ide dari sumber lain dan menuliskannya kembali dengan bahasa Anda sendiri.
Aturan: Tidak menggunakan tanda petik, namun tetap wajib mencantumkan nama penulis dan tahun terbit. Pencantuman halaman bersifat dianjurkan.
Contoh: Jones (2021) berpendapat bahwa dorongan yang berasal dari dalam diri individu cenderung lebih efektif dalam jangka panjang daripada imbalan dari luar. Format Dasar Sitasi dalam Teks (Gaya APA - American Psychological Association):
Nama di Awal Kalimat: Penulis (Tahun) Contoh: Sugiyono (2019) menyatakan bahwa...
Nama di Akhir Kalimat: (Penulis, Tahun) Contoh: ...merupakan metode penelitian kuantitatif (Sugiyono, 2019).